PALU | Warta Sulteng –
Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Densus 88 Antiteror Polri mengajak pelajar di Sulawesi Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap konten pornografi dan kekerasan dalam game hingga media sosial. Langkah mitigasi ini dinilai penting untuk mencegah dampak negatif paparan konten digital terhadap perkembangan karakter dan psikologis siswa.
Pesan tersebut disampaikan dalam sosialisasi pencegahan fenomena True Crime Community (TCC) kepada puluhan siswa SMK Negeri 2 Palu di Jalan Setia Budi, Kota Palu, Jumat (23/10/2026).
Perwakilan Unit Pencegahan Satgaswil Sulawesi Tengah Densus 88 Antiteror Polri menjelaskan, sosialisasi serupa telah dilakukan di sejumlah sekolah di Sulawesi Tengah. Dalam temuan unit pencegahan densus 88, petugas menemukan sekitar 18 pelajar yang tergabung dalam grup TCC.
“Sebanyak 18 siswa sudah kami lakukan intervensi secara kolaboratif dengan sejumlah pihak. Kami mengategorikan mereka sebagai korban karena ketidaktahuan. Saat menggunakan TikTok, ada aplikasi yang muncul, kemudian mereka mengunduhnya dan secara otomatis tergabung dalam grup tersebut,” ungkap perwakilan Unit Pencegahan Satgaswil Densus 88 Antiteror Polri didepan para pelajar dan pihak sekolah.
Menurut petugas, grup tersebut menjadi perhatian karena memuat berbagai konten negatif, termasuk pornografi dan video yang menggambarkan tindakan kekerasan. Paparan berulang terhadap konten semacam itu dikhawatirkan memengaruhi pembentukan karakter dan kondisi psikologis pelajar.
Karena itu, Densus 88 menekankan pentingnya meningkatkan literasi digital di kalangan siswa. Pelajar perlu lebih selektif mengakses konten, memahami risiko bergabung dalam grup yang tidak dikenal, serta menghindari materi yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan.
Terhadap game yang tidak dilarang, namun mengandung unsur-unsur kekerasan seperti Roblox, Free Fire, PUBG dan game kekerasan lainnya, peran orang tua dibutuhkan agar lebih mengawasi.
Selain pengawasan aktivitas digital, pencegahan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah juga menjadi perhatian. Petugas mengingatkan bahwa siswa yang merasa terpojok akibat perundungan perlu mendapat perhatian dan pendampingan agar tidak semakin rentan terhadap pengaruh negatif dari lingkungan sekitarnya.
Upaya mitigasi tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari sekolah, orang tua, hingga lingkungan pergaulan. Dengan pendampingan yang tepat, pelajar diharapkan mampu mengenali risiko sejak dini dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri 2 Palu, Muhammad Yakub, menyambut baik sosialisasi tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan tambahan pengetahuan bagi pihak sekolah dalam memahami risiko yang dapat memengaruhi siswa.
“Menurut kami, sosialisasi ini sangat baik karena memberikan pemahaman dan pengalaman yang luar biasa, terutama mengenai hal-hal yang dapat merugikan anak-anak kami. Dari sisi pengetahuan, kami juga mendapat pemahaman tentang mitigasi kekerasan bagi pelajar di Sulawesi Tengah,” kata Yakub.
Ketua OSIS SMK Negeri 2 Palu, Leo, juga mengajak rekan-rekannya agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, siswa harus mampu memilah konten yang bermanfaat dan menghindari hal-hal yang berpotensi membawa dampak negatif.
“Gunakanlah jari-jari teman-teman untuk hanya mengklik hal-hal yang positif,” pesannya.
Melalui sosialisasi ini, pelajar diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga diri di ruang digital, mengenali potensi bahaya konten kekerasan, serta membangun lingkungan sekolah yang aman melalui pencegahan perundungan dan penguatan kepedulian antarsiswa. (Od)




