WARTA , MAKKAH – Puluhan asal , khususnya dari Kloter 14, mengeluhkan pelayanan yang tidak sesuai harapan selama di , Makkah, Arab Saudi, sejak seminggu terkahir.

Keluhan tersebut mencakup masalah tempat tinggal, makanan, dan minuman yang diberikan.

Alfian Chaniago, salah satu jamaah haji Kloter 14, bercerita dan menyampaikan ketidaknyamanannya saat tinggal di salah satu di Arafah.

“Awalnya kami sudah ribut-ribut di grup kami sendiri soal ketersedian air yang sangat kurang, lalu, pihak hotel hanya menyediakan air galon yang ternyata tidak layak minum karena di ambil dari kran” cerita Alfian melalui sambungan telepon seluler, Sabtu, (22/06/24).

Menurutnya, setelah mencoba melaporkan segala kekurangan air di hotel, mereka pun heran mendapat perlakuan kasar dari salah satu anggota Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Sulawesi Tengah, yang juga merupakan perwakilan salah satu travel umrah dan haji.

“Kami sudah melaporkan segelah permasalahan kepada kordinator dan ketua kloter sejak tanggal 19 Juni, Setelah negosiasi, ketua kloter berjanji tidak akan di ulangi lagi keterlambatan makanan dan juga ketersediaan air” ungkapnya.

“Namun, kami heran tiba-tiba datang anggota KBIHU Sulawesi Tengah langsung marah-marah ke kami yang mengeluhkan air minum dan makanan yang datang terlambat. Saat itu, dia memprovokasi dan akhirnya jamaah lainnya sempat terlibat kericuhan termasuk saya juga” tambah Alvian, bercerita.

Selama tujuh hari terakhir menurut Alvian, para jamaah haji mengaku tidak mendapatkan pelayanan yang memadai.

“Makanan seperti sarapan, siang, dan sering terlambat hingga berjam-jam” katanya.

Selain itu, masih kata Alvian, jamaah hanya diberikan 600 mililiter (1 botol) air minum, sedangkan sisanya berupa air galon yang diambil dari keran, yang biasanya digunakan untuk mencuci dan mandi.

“Disini lagi musim panas, suhunya antara 40 sampai 45 derajat, itu air minum yang di sediakan sangat tidak cukup. Disiapkan cuman 1 dos berisi 30 botol, sementara kami berjumlah 40 orang” tambahnya.

Para jamaah haji mencoba meminta kejelasan kepada pengurus haji terkait masalah ini, namun justru mendapatkan respons negatif.

Atas kejadian ini, para jamaah haji memutuskan untuk melaporkan masalah tersebut kepada pengurus haji Sulawesi Tengah, agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak ada lagi jamaah haji yang merasa ditelantarkan. (Tim)