PALU | Warta Sulteng –
Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Palu bersama aktivis lingkungan dan jurnalis peduli lingkungan menggelar diskusi terbuka di sekitar oprit Jembatan Palu IV, Jalan Cumi-Cumi, Palu Barat, Minggu sore (18/1).
Diskusi ini membahas pentingnya menjaga sisa infrastruktur terdampak tsunami 2018 sebagai monumen bersejarah peringatan bencana.
Oprit Jembatan Palu IV dinilai memiliki sejarah yang kuat dan perlu dipertahankan sebagai pengingat peristiwa tsunami Teluk Palu. FPRB menekankan perlunya dorongan kepada Pemerintah Kota Palu agar jejak tsunami tidak dihilangkan, melainkan dirawat dan dikelola secara berkelanjutan.
Pengamat kebencanaan sekaligus dosen Teknik Geofisika FMIPA Universitas Tadulako, Abdullah, menyebut upaya mempertahankan oprit Jembatan Palu IV telah diperjuangkan sejak 2019.
Ia mengatakan oprit sisi timur jempabatan Palu IV sudah lebih dulu dihilangkan, sehingga sisa struktur yang ada saat ini harus dijaga. “Termasuk tiang pondasi di bagian tengah jembatan. Itu bagian penting dari jejak tsunami,” ujarnya.
Abdullah menambahkan, meski terbilang terlambat, DPRD Kota Palu kini tengah menyusun rencana peraturan daerah tentang penataan sisa-sisa bangunan terdampak tsunami dan likuefaksi. Regulasi tersebut diharapkan menjadi dasar hukum perlindungan situs-situs kebencanaan di Kota Palu.
Dalam diskusi itu, Ridwan Lapasere Ketua FPRB Kota Palu juga menyinggung kondisi Masjid Terapung, Jalan Cumi-Cumi. Sebagai bagian jejak tsunami 2018 silam, Ia menilai bangunan tersebut berpotensi tergerus ombak.
“jika tidak dilindungi tanggul pemecah gelombang, perlahan pasti roboh. Hal itu penting agar merawat ingatan kita sebagai bagian dari mitigasi bencana” jelasnya.
Ke depan, koalisi FPRB, aktivis lingkungan, dan jurnalis peduli lingkungan berencana kembali melakukan pendataan sisa-sisa tsunami dan likuefaksi di Kota Palu. Pendataan tersebut akan menjadi dasar usulan pengembangan kawasan museum peringatan tsunami yang tetap memerhatikan jalur dan akses evakuasi.
Pegiat literasi dan pemerhati lingkungan, Neni Muhidin, menilai oprit tsunami Palu sangat potensial dijadikan “museum hidup”. Menurutnya, museum ini berbeda dengan Museum Tsunami Aceh yang dibangun secara khusus.
“Di Palu, museum itu hadir secara alami. Ia menjadi pengingat nyata bahwa tsunami pernah terjadi di Teluk Palu,” kata Neni. (Od).