PALU | Warta Sulteng –

Kualitas udara di Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi perhatian setelah konsentrasi partikulat PM2,5 terpantau masuk kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini diperkirakan masih berpotensi dipengaruhi sebaran asap dari luar Pulau Sulawesi hingga 15 Oktober 2026.

Ketua Tim Pelayanan Publik dan Humas BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Muh. Soeharto Dwi Putra Rahman, mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat udara telah terpantau sejak Juni 2026. Namun, kenaikan yang lebih signifikan terjadi pada Agustus, September, hingga Oktober.

Berdasarkan hasil pemantauan BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri pada 10 dan 11 Oktober 2026, konsentrasi PM2,5 telah masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, PM10 berada pada kategori tidak sehat.

“Kalau untuk kategori konsentrasi PM2,5, untuk pengamatan terakhir tanggal 10 dan 11 kemarin itu sudah masuk kategori sangat tidak sehat. Sementara untuk PM10-nya itu sudah masuk di kategori tidak sehat,” kata Soeharto saat diwawancarai di Kantor BMKG Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Jalan Sapta Marga, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan partikulat udara sebenarnya sudah mulai terlihat sejak pertengahan tahun, meskipun kondisinya belum terjadi secara merata sepanjang bulan.

“Berdasarkan pengamatan kami, peningkatan konsentrasi PM10, PM2,5, dan PM1 itu dimulai sejak Juni. Namun, belum secara merata dalam satu bulan penuh. Peningkatan terbesarnya terjadi sekitar Agustus, September, hingga Oktober,” ujarnya.

Selain PM2,5 dan PM10, konsentrasi PM1 juga tercatat berada di atas 151 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebaran asap dari luar Pulau Sulawesi diperkirakan masih memengaruhi kualitas udara di Sulawesi Tengah.

Soeharto mengatakan, BMKG akan memperbarui informasi kondisi dan prakiraan kualitas udara pada Selasa (13/10/2026). Sementara itu, berdasarkan perkiraan sebaran asap, pengaruhnya masih berpotensi berlangsung hingga sekitar 15 Oktober.

“Kalau melihat sebarannya, wilayah Sulawesi Tengah masih akan terpapar sebaran asap dari luar Pulau Sulawesi. Estimasinya mulai hari ini sampai sekitar tanggal 15,” katanya.

BMKG Imbau Warga Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Menghadapi kondisi kualitas udara yang memburuk, BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker dan menjaga kecukupan cairan tubuh.

Imbauan tersebut juga berkaitan dengan kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di Sulawesi Tengah. Pada 10 Oktober 2026, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah wilayah, dengan beberapa daerah mencapai kategori awas.

Soeharto mengatakan kondisi kemarau dan fenomena El Niño meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan apabila masyarakat melakukan pembakaran secara terbuka.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa, tetap menggunakan masker saat beraktivitas serta menjaga hidrasi tubuh dengan minum air. Kemudian, menghindari atau tidak melakukan pembakaran sampah di lahan terbuka,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara terbuka karena dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan masih kering.

Musim Hujan Diperkirakan Mulai Akhir Oktober

Terkait perkembangan kualitas udara ke depan, BMKG memperkirakan peluang masuknya musim hujan di Sulawesi Tengah mulai terlihat pada akhir Oktober 2026.

Menurut Soeharto, hujan dapat membantu mengurangi partikulat yang berada di atmosfer melalui proses pencucian oleh air hujan. Proses tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas udara di wilayah Sulawesi Tengah.

“Prediksi terdekat untuk musim hujan di wilayah Sulawesi Tengah itu pada akhir Oktober. Hujan menjadi salah satu faktor yang dapat membilas udara kotor tersebut. Jadi, kami berharap ketika musim hujan terjadi, kualitas udara di wilayah Sulawesi Tengah dapat berangsur membaik,” jelasnya.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak mengabaikan langkah mitigasi selama kualitas udara masih memburuk. Warga diharapkan terus memantau informasi resmi BMKG dan membatasi paparan udara luar, terutama ketika konsentrasi partikulat berada pada tingkat yang tidak sehat.(od)