WARTA SULTENG, di Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, kembali meletus pada Selasa (30/4), menyebabkan sebaran abu vulkanik yang luas dan dampak yang dirasakan hingga ke negara tetangga. Aktivitas vulkanik terbaru ini terjadi pada pukul 08.35 WITA dengan tinggi kolom abu mencapai ± 5000 meter di atas puncak.

Dilaporkan bahwa Manado dan sekitarnya hampir gelap sepanjang hari Selasa kemarin, dengan abu vulkanik turun di berbagai wilayah termasuk Gorontalo sampai Buol dan Toli Toli, .

Sejumlah bandara termasuk Bandara Gorontalo, Sitaro, Bolaang Mongondow, Tahuna, Pohuwato, Sam Ratulangi, dan Pogugul telah menutup operasinya sejak kemarin.

Pantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lindu Bariri menunjukkan sebaran debu vulkanik meluas bukan hanya di Sulawesi Utara tetapi juga hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam.

Model sebaran abu vulkanik menunjukkan bahwa dalam 6 jam pasca letusan, debu vulkanik terlihat masih di sekitar lokasi letusan, kemudian menyebar ke wilayah Timur dan Barat sekitarnya. Debu vulkanik bahkan mencapai Ternate, Maluku Utara, setelah 18-24 jam pasca letusan.

Hasil pantauan sebaran Sulfur Dioksida (SO2) menunjukkan konsentrasi tinggi di wilayah Sulawesi Utara dekat dengan lokasi letusan, dengan nilai 5 part per billion volume (ppbv). Sedangkan wilayah lain seperti Gorontalo dan Sulawesi Tengah memiliki konsentrasi antara 0.05 – 1 ppbv.

Pengukuran kualitas udara yang dilakukan Kantor Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Sulawesi Tengah pada Rabu (1/5/) menunjukkan peningkatan partikel debu halus PM2,5 atau yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikrometer dengan nilai 69 µgram/m3 atau masuk kategori ‘tidak sehat'.

SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menegaskan pentingnya keselamatan dalam menghadapi dampak .

“Masyarakat di wilayah terdampak debu vulkanik dan kandungan gas SO2 tinggi dihimbau untuk tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan” himbau Asep. (**)