PALU | Warta Sulteng –

Sulteng 62 Tahun: Kita Rayakan Panggung, Tapi Membiarkan Peradaban Tenggelam

Sulawesi Tengah genap 62 tahun. Ada geliat pembangunan yang pantas kita tepuk. Namun di balik gemuruh pesta, ada sesuatu yang mengendap pelan—tenggelam dalam sunyi. Situs-situs megalitik di Napu, Besoa, dan Bada menyimpan denyut ilmu dan jejak leluhur. Namun sampai hari ini, ia masih terpinggirkan, seperti kenangan yang tak ingin diingat.

Setiap tahun, panggung perayaan kembali dibangun. Rapi, meriah. Slogan bergantungan, simbol kemegahan merekah, narasi kemajuan menggema. Semuanya tampak elok di permukaan. Namun justru di sanalah luka itu bersembunyi: kita semakin pandai berpamer, tetapi semakin lupa memaknai.

Sulawesi Tengah sering disebut sebagai salah satu kawasan dengan warisan megalitik terbesar di Nusantara. Batu-batu besar yang tersebar di lembah-lembah itu bukan sekadar puing masa lalu. Dalam banyak studi arkeologi global, struktur megalitik merupakan wajah dari sistem pengetahuan—termasuk cara manusia membaca langit, menata keyakinan, dan merawat jagat. Ia adalah peradaban yang membisu, tetapi terus berbicara.

Namun di sini, megalit hanya menjadi latar. Cantik untuk difoto, lalu ditinggalkan. Ia dijadikan objek, bukan subjek; bukan sumber kebudayaan. Tak ada upaya sungguh untuk menjadikannya fondasi identitas. Tak ada keberanian untuk menggali ia sebagai strategi pengetahuan masa depan.

Ini bukan soal miskin potensi. Ini soal miskin cara pandang.

Erving Goffman, sang sosiolog, mengingatkan bahwa kehidupan sosial adalah panggung sandiwara. Ada panggung depan—yang kita pertontonkan ke publik. Ada panggung belakang—yang sesungguhnya terjadi. Di Sulteng, panggung depan kita penuh gemerlap seremoni dan slogan Sulteng Nambaso yang terus diulang. Sementara di panggung belakang, peradaban dibiarkan tanpa arah, tanpa tafsir.

Ini bukan kebetulan. Ini pilihan. Kekuasaan lebih menyukai hal-hal yang instan, yang cepat tampak, dan mudah dipamerkan. Sementara yang dalam, lintas disiplin, dan memerlukan waktu, justru tersisih. Megalit berada di kategori kedua.

Maka, yang terjadi bukan sekadar keterlambatan pengelolaan, melainkan kegagalan membangun fondasi pengetahuan. Daerah ini memiliki bahan mentah peradaban, tetapi tidak diolah menjadi kekuatan. Ibarat memiliki pusaka, tetapi tak pernah belajar membaca aksaranya.

Jika terus begini, kita akan kehilangan otoritas atas warisan sendiri. Penelitian, narasi, dan interpretasi akan datang dari luar. Dunia akan mengenal megalit Sulteng melalui kacamata asing. Sementara masyarakat lokal hanya duduk manis sebagai penonton di kampung sendiri.

Ironis. Slogan menggema, tetapi akar budaya tak tersentuh.

Daerah tidak menjadi besar karena apa yang dipamerkannya. Daerah menjadi besar karena apa yang dipahaminya, lalu dibangunnya dengan sungguh-sungguh.

Di usia ke-62, sudahlah. Berhenti sejenak. Menengok ke dalam. Bukan hanya merayakan yang tampak, tetapi mengakui apa yang selama ini terabaikan. Megalit tak boleh lagi diperlakukan sebagai benda bisu. Ia harus ditempatkan sebagai pintu masuk: untuk riset, pendidikan publik, bahkan pariwisata berbasis pengalaman—seperti astrotourism yang menautkan langit dan leluhur.

Namun semua itu hanya mungkin jika cara pandang kita berubah.

Jika tidak, kita akan terus memperkuat panggung, sementara isi peradaban perlahan tenggelam.

Dan ketika itu benar-benar terjadi, yang hilang bukan lagi batu-batu tua di lembah-lembah itu. Yang hilang adalah makna dari siapa kita sebenarnya.**

(Artikel ini Opini dari : Nudin El, Senior Volunteer Roa Jaga Roa)