PALU | Warta Sulteng –

Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melepas ekspor 459 ton durian beku ke Tiongkok senilai Rp42,5 miliar, Kamis (16/4/2026). Pengiriman langsung dari Palu ini menandai penguatan posisi Sulawesi Tengah sebagai pemasok utama durian nasional ke pasar global.

Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, menegaskan ekspor ini merupakan hasil kerja panjang hingga Indonesia akhirnya memiliki akses langsung ke pasar Tiongkok setelah penandatanganan protokol ekspor pada 25 Mei 2025.

“Keberhasilan ini buah kolaborasi semua pihak. Hingga hari ini sudah 151 kontainer durian kita kirim ke Tiongkok dengan nilai Rp377,5 miliar,” kata Sahat.

Ia menambahkan, skema ekspor langsung mampu memangkas waktu pengiriman dari sebelumnya 56 hari menjadi hanya 22–26 hari. Biaya logistik juga turun hingga dua kali lipat, sehingga memperkuat arus kas pelaku usaha dan mempercepat proses produksi di tingkat eksportir.

Langkah ini sekaligus mendorong hilirisasi komoditas hortikultura dan memperluas akses pasar internasional, sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian.

Sebelum memiliki akses langsung, ekspor durian Indonesia ke Tiongkok harus melalui negara perantara seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha dalam negeri hanya menjadi pemasok bahan baku.

Barantin kemudian berkoordinasi dengan otoritas Tiongkok dan melakukan pendampingan terhadap eksportir bersama Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional. Upaya itu berujung pada ekspor perdana langsung pada Desember 2025.

Kepala Karantina Sulawesi Tengah, Alfian, menyebut daerahnya kini menjadi pusat fasilitas ekspor durian nasional. Sebanyak tujuh dari delapan instalasi karantina tumbuhan yang terdaftar untuk ekspor ke Tiongkok berada di wilayah Sulawesi Tengah.

“Ekspor langsung ini memangkas biaya logistik dan memberi nilai jual lebih tinggi. Harga durian di Tiongkok bisa 5 sampai 7 kali lipat dibandingkan harga lokal,” ujar Alfian.

Sepanjang Januari hingga April 2026, ekspor durian beku Indonesia ke Tiongkok tercatat mencapai 4.077 ton dengan nilai Rp377,5 miliar.

Data BPS menunjukkan produksi durian Sulawesi Tengah pada 2025 mencapai 95.140 ton, dengan sentra utama di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong. Total populasi pohon durian di wilayah ini mencapai sekitar 3,7 juta pohon.

Permintaan durian di Tiongkok yang mencapai sekitar US$8 miliar per tahun membuka peluang besar bagi Indonesia. Pemerintah menargetkan mampu merebut 5–10 persen pangsa pasar dengan potensi devisa hingga Rp12,8 triliun per tahun.

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menilai ekspor langsung ini menjadi tonggak penting bagi daerah.

“Ekspor ini menegaskan durian Sulawesi Tengah tidak lagi melalui negara lain. Ini akan meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat posisi daerah sebagai sentra durian nasional,” ujarnya.**