PALU | Warta Sulteng –
Pengemudi yang melintasi ruas Trans Sulawesi jalur Tentena–Taripa, Sulawesi Tengah, diminta mengantisipasi waktu perjalanan menyusul pekerjaan perluasan jalan yang masih berlangsung. Meski sistem buka-tutup telah diterapkan, waktu tempuh di jalur ini belum dapat dipastikan.
Kondisi terpadat terjadi saat jadwal pembukaan jalan pada sore hari. Di ruas Didiri–Koronjongi, misalnya, perjalanan yang normalnya ditempuh sekitar 15 menit membengkak menjadi hampir satu jam. Sejumlah pengemudi mencatat, kendaraan baru dapat melintas dari pintu buka-tutup Didiri sekitar pukul 18.40 Wita dan tiba di Koronjongi pukul 19.38 Wita.
“Biasanya cuma 15 menit, sekarang hampir satu jam. Kami harus sabar antre karena jalannya sempit dan licin,” kata Erick, salah satu pengemudi yang melintas, Sabtu, (25/4).
Antrean kendaraan terjadi akibat tingginya volume lalu lintas yang didominasi kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga truk pengangkut barang. Petugas di lapangan terpaksa memberlakukan sistem prioritas, dengan mendahulukan kendaraan jenis SUV, sementara kendaraan berat seperti truk dan bus menunggu giliran berikutnya.
“Kalau truk seperti kami harus menunggu lebih lama. Kadang sudah dapat giliran, tapi terhenti lagi karena kendaraan dari arah berlawanan belum lewat semua,” ujar Arman, sopir truk.
Pengaturan tersebut kerap terkendala kondisi cuaca. Hujan yang turun, meski singkat, membuat tanah hasil gusuran menjadi licin. Situasi ini berulang kali menghentikan laju kendaraan dan memperpanjang antrean.
“Kalau hujan turun, ban sering selip. Kami harus ekstra hati-hati, bahkan ada yang harus berhenti lama menunggu jalur aman,” tambah Erick lagi.
Kesulitan pengemudi juga diperparah oleh keberadaan kendaraan besar yang parkir di sisi berlawanan. Ruas jalan yang sempit memaksa pengendara ekstra hati-hati saat melintasi jalur berlumpur, bahkan kendaraan roda dua tidak dapat melintas di sejumlah titik.
Petugas berseragam rompi tampak disiagakan di titik-titik rawan untuk mengatur arus kendaraan, terutama saat kendaraan berbadan lebar berpapasan.
Di tengah antrean, sejumlah sopir kendaraan besar terdengar berteriak kepada pengendara yang melintas, menanyakan ketersediaan makanan.
“Ada roti? Air minum?” teriak seorang sopir dari dalam truknya kepada kendaraan yang perlahan melintas.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi pengguna jalan untuk menyiapkan perbekalan sebelum memasuki jalur buka-tutup, atau mengisi kebutuhan logistik di Tentena maupun Taripa.**