SIGI | Warta Sulteng –

Sekolah Sukma Bangsa Sigi, Sulawesi Tengah, mewisuda hampir 40 siswa SMP dan SMA dalam kelulusan angkatan ketiga tahun ajaran 2025–2026, Sabtu, (16/5/2026).

Sekolah binaan Yayasan Sukma Bangsa di bawah Media Group itu terus memperkuat akses pendidikan bagi anak-anak terdampak gempa dan likuifaksi 2018 di Sulawesi Tengah.

Kegiatan wisuda dihadiri Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Bangsa Ahmad Baedowi, Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemprov Sulawesi Tengah mewakili gubernur, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Sigi, Direktur Sekolah Sukma Bangsa, Sigi Nurhayati, serta orang tua siswa.

Saat ini, ratusan pelajar dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah menempuh pendidikan di Sekolah Sukma Bangsa Sigi. Sejumlah siswa bahkan berasal dari Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Direktur Eksekutif Yayasan Sukma Bangsa Ahmad Baedowi mengatakan sekolah tersebut dibangun dari donasi masyarakat pascabencana Sulawesi Tengah yang terkumpul hampir Rp54 miliar.

“Melalui Media Group kami mengumpulkan donasi masyarakat, terkumpul kurang lebih hampir Rp54 miliar. Kemudian Ibu Lestari Moerdijat dan Pak Surya Paloh meminta kami mencari tanah di Sulawesi Tengah untuk membangun Sekolah Sukma Bangsa,” kata Ahmad Baedowi.

Ia menjelaskan Yayasan Sukma memiliki pengalaman membangun sekolah pascabencana sejak tsunami Aceh tahun 2005. Pengalaman itu kemudian diterapkan di Sulawesi Tengah setelah gempa, tsunami, dan likuifaksi melanda Palu dan Sigi pada 2018.

Sebelum membangun sekolah permanen, Yayasan Sukma Bangsa lebih dulu mendirikan sejumlah sekolah tenda di wilayah Palu dan Sigi selama hampir satu tahun untuk membantu proses belajar anak-anak korban bencana.

“Dari sekolah tenda itulah cikal bakal siswa pertama sekolah ini. Tahun pertama kami merekrut siswa perempuan terlebih dahulu karena asrama belum selesai seluruhnya,” ujarnya.

Ahmad menegaskan Sekolah Sukma Bangsa tidak ingin dikenal hanya sebagai sekolah pascabencana. Yayasan menargetkan sekolah itu mampu bersaing dengan sekolah unggulan lain melalui peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia.

Sekolah Sukma Bangsa saat ini menerapkan pendidikan berbasis asrama dengan dukungan tenaga pendidik dari Aceh dan Sulawesi Tengah. Sejumlah guru dan pimpinan sekolah merupakan lulusan perguruan tinggi luar negeri, termasuk Finlandia, Taiwan, dan Selandia Baru.

Selain itu, sekolah juga mengembangkan program sertifikasi Cambridge untuk memperkuat daya saing siswa di tingkat internasional.

“Sekolah ini tidak boleh menjadi stereotype sekolah bencana. Kami ingin sekolah ini punya daya saing sehat dengan sekolah lain karena kami yakin Sekolah Sukma memiliki sumber daya yang cukup,” katanya.

Saat ini, sekitar 165 siswa masih menerima program beasiswa di Sekolah Sukma Bangsa Sigi. Yayasan Sukma Bangsa berharap dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terhadap program beasiswa dapat terus berlanjut agar anak-anak di wilayah terdampak bencana tetap memperoleh akses pendidikan berkualitas.

“Kami berharap beasiswa yang sudah berjalan ini bisa terus dilanjutkan karena ini bukan untuk yayasan, tetapi untuk anak-anak Sulawesi Tengah yang saat ini masih bersekolah di sini,” ujar Ahmad Baedowi.

Dalam proses pembelajaran, Sekolah Sukma Bangsa mengusung tema From Roots to Wings dengan menciptakan lingkungan belajar aman dan nyaman bagi siswa.

“Tiga hal yang tidak boleh dilakukan di sekolah ini adalah no cheating, no bullying, dan no smoking,” tutur Ahmad Baedowi. (od)