MAKASSAR, Wartasulteng.com –
Dunia penerbangan Indonesia dikejutkan dengan hilangnya kontak pesawat ATR 42-500 bernomor registrasi PK-THT milik PT Indonesia Air Transport (IAT) yang mengangkut 11 orang jiwa. Pesawat yang lepas landas dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada Sabtu siang itu terdeteksi hilang kontak di wilayah Maros, Sulawesi Selatan.
Menurut Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DJPU), pesawat tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi pengawasan maritim. Delapan kru dan tiga penumpang tercatat dalam manifest, termasuk Kapten Andy Dahananto, First Officer Yudha Mahardika, serta penumpang bernama Deden, Ferry, dan Yoga.
Pesawat lepas landas normal dari Yogyakarta dan masuk wilayah ATC Makassar. Pada pukul 12.23 WITA, ATC Terminal Service Makassar mengidentifikasi pesawat tidak berada pada jalur pendekatan RWY21. “Arahan koreksi posisi diberikan, namun setelah instruksi terakhir, komunikasi terputus,” ujar perwakilan DJPU.
Status DETRESFA dideklarasikan segera setelahnya. Basarnas Makassar menerima laporan dari AirNav Indonesia pukul 13.17 WITA, dengan posisi terakhir di koordinat 04°57’08” LS dan 119°42’54” BT, kawasan Leang-Leang, Maros.
Basarnas mengerahkan 60 personel dalam tiga regu SAR, didukung drone, mobil rescue, dan truk personel. Posko utama didirikan di Bantimurung, Pangkep. TNI AU menyiapkan helikopter Caracal untuk observasi udara, sementara BPBD Pangkep melaporkan temuan serpihan pesawat yang terbakar di kaki Gunung Bulusaraung.
“Seorang pendaki merekam video serpihan tersebut. Tim SAR sudah berangkat satu jam lalu,” kata Herianti Tualle dari BPBD Pangkep. Crisis Center dibuka di Bandara Sultan Hasanuddin untuk koordinasi informasi.