JAKARTA, Wartasulteng.com –

Data Kemenkeu mengungkap beban utang jatuh tempo Rp833,96 triliun pada 2026, puncaknya dalam dekade mendatang, memaksa Indonesia bergantung pada pasar obligasi global di tengah ketidakpastian suku bunga The Fed. Cicilan ini termasuk SBN burden sharing Rp154,5 triliun dengan BI, ditambah bunga Rp599,44 triliun.

The Fed mempertahankan suku bunga 3,50-3,75% per Januari 2026, menunda ekspektasi pemangkasan hingga Juni menurut Goldman Sachs. Yield SBN 10-tahun Indonesia kini 6,8%, membuat refinancing mahal. Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia bilang, “Kami terjebak menunggu sinyal The Fed, tapi harus mandiri lewat pajak.”

Pemerintah optimis dengan proyeksi pertumbuhan 5,2% dan inflasi terkendali 2,5±1%. Strategi termasuk penerbitan green bond dan diversifikasi investor dari Timur Tengah. Namun, DSR 46% menekan ruang fiskal untuk subsidi energi dan pendidikan.

Rating investment grade dari Fitch BBB menjaga akses pasar, tapi Moody’s perkirakan defisit membesar jika harga komoditas turun. Pakar menyarankan restrukturisasi utang jangka panjang dan percepatan hilirisasi nikel untuk tambah penerimaan. Jika The Fed potong suku bunga tepat waktu, biaya utang bisa turun Rp50 triliun, beri napas bagi APBN. Tanpa itu, risiko downgrade rating mengintai.