PALU | Warta Sulteng –
Isu kemunculan fenomena “El Nino Godzilla” 2026 menguat dan mulai menjadi perhatian di Sulawesi Tengah. Istilah tersebut mencuat setelah adanya prediksi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menggambarkan potensi El Nino dengan intensitas sangat kuat, seperti yang pernah terjadi pada 1997 dan 2015.
Meski demikian, hingga akhir Maret 2026, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menegaskan status iklim Indonesia masih berada pada fase El Nino Watch atau pemantauan. BMKG memprediksi peluang munculnya El Nino kategori lemah hingga moderat sebesar 50–60 persen pada semester kedua 2026, khususnya periode Juni hingga Agustus.
“Peluang El Nino tetap ada pada pertengahan hingga akhir tahun, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi lebih panjang dari normal,” demikian proyeksi BMKG.
Di Sulawesi Tengah, pola musim menunjukkan dinamika berbeda. Hingga April–Mei 2026, belum ada wilayah yang diprediksi memasuki awal musim kemarau. Sejumlah daerah seperti sebagian besar Parigi Moutong serta sebagian kecil Donggala dan Sigi justru diperkirakan masih mengalami hujan. Sementara mayoritas wilayah lainnya baru akan memasuki musim kemarau secara bertahap pada Juni (24 persen zona), Juli (34 persen), dan Agustus (21 persen).
Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep F. Ilahi, menyebut dampak El Nino berpotensi signifikan jika menguat, terutama di wilayah bercurah hujan rendah.
“Wilayah seperti Palu, Sigi, dan Donggala yang berada di zona bayang-bayang hujan berpotensi mengalami kekeringan lebih parah. Debit sungai seperti Gumbasa dan Lariang bisa menyusut drastis,” ujar Asep dalam keterangannya di Whatsapp Group (WAG) Disaster Forum Sulteng, Jumat, (27/03/2026).
Menurut Asep, sektor pertanian juga menjadi perhatian utama. Sentra produksi padi seperti Parigi Moutong dan Banggai berisiko menghadapi gagal panen akibat terbatasnya pasokan air irigasi.
Selain itu, penurunan kelembapan udara saat kemarau panjang meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
“Risiko kebakaran akan meningkat saat kondisi kering. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar,” katanya.
Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat debu dan polusi udara, serta potensi penyakit tular air akibat keterbatasan air bersih.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diminta mulai menghemat penggunaan air dan memastikan ketersediaan air di waduk maupun embung tetap optimal. Petani juga disarankan menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman tahan kekeringan.
BMKG menegaskan prediksi ini masih bersifat peringatan dini dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan kondisi iklim. Informasi lebih lanjut terkait prediksi musim kemarau 2026 dapat diakses melalui laman resmi BMKG.**







