HAMBALAT, Wartasulteng.com – 

Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus menghentikan ekspor bahan mentah dan mempercepat hilirisasi industri sebagai jalan utama menciptakan lapangan kerja berkualitas sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pernyataan tegas itu disampaikan dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab” bersama jurnalis dan ekonom di Hambalang, Kamis (19/3/2026).

“Saya ingin hilirisasi. That’s the only way. Kita tidak boleh ekspor bahan mentah lagi. Kita harus mengolah bahan mentah itu menjadi turunan industri yang bernilai tinggi,” tegas Prabowo. Ia menyoroti paradoks Indonesia yang kaya sumber daya alam, seperti bauksit tapi impor aluminium, kopi terbaik tapi impor Starbucks, serta kakao tapi impor KitKat.

Pemerintah telah menetapkan 18 proyek hilirisasi prioritas 2026 senilai Rp618 triliun, mencakup bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga kilang minyak. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengisyaratkan larangan ekspor timah mentah, menyusul sukses nikel yang dorong ekspor dari US$3,3 miliar (2018-2019) menjadi US$34 miliar (2024).

Prabowo juga ungkap efisiensi anggaran Rp308 triliun dari pemangkasan belanja tidak produktif, setara 30% inefisiensi atau US$75 miliar. Langkah serupa diterapkan untuk hemat BBM akibat krisis Timur Tengah, termasuk kajian WFH bagi ASN seperti masa Covid-19.

“Dulu kita berhasil WFH, hemat BBM besar-besaran,” ujarnya. Strategi ini diharapkan tekan ICOR Indonesia dari 6,5 menuju efisiensi negara tetangga, wujudkan transformasi ekonomi berkelanjutan.