PALU | Warta Sulteng –

Perum Bulog optimistis target pengadaan beras dan jagung di Sulawesi Tengah pada 2026 dapat tercapai seiring dimulainya musim panen di sejumlah daerah pada akhir Maret mendatang.

Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Mayjen TNI (Purn.) Marga Taufiq, menilai kinerja pengadaan komoditas penugasan di wilayah tersebut masih berjalan sesuai rencana meski saat ini belum memasuki masa panen raya.

“Sulawesi Tengah memang belum waktunya panen besar-besaran. Mungkin akhir bulan Maret sudah mulai, kita harap target pengadaan tercapai. Secara umum kinerja dan target meningkat,” kata Marga Taufiq saat kunjungan kerja di Sulawesi Tengah, Selasa (10/3/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau ketersediaan stok pangan, memimpin rapat koordinasi, serta melakukan inspeksi harga pangan di pasar.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, Jusri, melaporkan bahwa harga beras di pasar masih berada pada kisaran normal. Kenaikan harga hanya terjadi pada beras premium di wilayah Morowali.

Jusri juga menyampaikan perkembangan pengadaan beras yang ditargetkan mencapai 11.300 ton sepanjang tahun ini.

“Pengadaan punya target 11.300 ton, terealisasi lima persen atau sekitar 500 ton. Setelah lebaran kemungkinan besar di Parigi Moutong dan Donggala mulai panen. Untuk jagung sudah ada pengadaan sekitar 284 ton, insyaallah semua target dapat dicapai,” jelas Jusri.

Sementara itu, Bulog memastikan ketahanan stok beras di Sulawesi Tengah masih sangat memadai, bahkan di tengah penyaluran bantuan pangan kepada ratusan ribu penerima manfaat.

Bulog mencatat penyaluran bantuan pangan Februari–Maret 2026 menjangkau 408.809 penerima manfaat di wilayah tersebut.

“Stok di Sulteng diperkirakan sampai November 2026. Tapi ini dinamis, ada stok keluar dan ada juga stok yang masuk. Ritme stok masih terjaga di Sulteng,” ujar Marga Taufiq.

Dalam kesempatan itu, Marga Taufiq juga mengapresiasi langkah Bulog Sulteng yang memperkuat sinergi dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Menurutnya, kolaborasi tersebut memudahkan Bulog memetakan potensi produksi pangan dari petani di daerah.

“Saya kira ini sesuatu yang bagus. PPL ini sejak dulu sudah ada, dengan kolaborasi ini dapat mengoptimalkan mutu pangan yang kemudian bisa diserap oleh Bulog,” katanya.

Ia menambahkan, peran penyuluh pertanian membantu Bulog memperoleh informasi langsung mengenai kondisi produksi di tingkat petani, sekaligus memastikan gabah dan beras yang diserap memiliki kualitas baik.

“Mereka tahu seluk-beluk pertanian. Jadi kita tidak terlalu bekerja keras lagi untuk mendapatkan gabah dan beras yang bagus,” tutupnya. **