POSO | Warta Sulteng –

Situs Cagar Budaya Megalitik Tadulako di Lembah Behoa, Desa Doda, Kecamatan Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, tidak hanya menyimpan jejak peradaban masa lalu. Di baliknya, ada peran juru pelihara (jupel) yang bekerja tanpa henti menjaga kelestarian situs.

Salah satunya Moh Ikbal, yang telah mengabdikan diri selama lima tahun merawat kawasan megalitikum di wilayah Lembah Behoa.

Saat ditemui di lokasi, Rabu (23/4/2026), Ikbal bercerita dirinya merupakan satu dari enam jupel yang bertugas di kawasan megalitikum Lore Tengah. Setiap jupel bertanggung jawab atas dua situs cagar budaya. Ia sendiri menjaga Tadulako dan Situs cagar budaya Lore.

Ikbal mengaku menjalani tugas tanpa mengenal hari libur. Ia harus selalu siaga untuk memandu pengunjung yang datang.

“Kami tidak ada libur. Harus selalu standby di lokasi untuk melayani pengunjung,” ujarnya.

Menurutnya, lonjakan pengunjung biasanya terjadi saat hari libur. Hingga Maret 2026, jumlah pengunjung yang tercatat mencapai 570 orang dan telah dilaporkan ke kantor.

“Waktu Lebaran Idul Fitri, selesai salat Id kami langsung ke sini karena banyak pengunjung datang,” katanya.

Selain menjaga situs, Ikbal juga mengurus fasilitas pendukung, seperti mengoperasikan genset untuk mengisi tandon air di toilet. Namun, saat ini genset tersebut dalam kondisi rusak.

“Kalau ada kegiatan atau kunjungan pejabat, tetap kami upayakan berfungsi. Bahkan kadang pakai genset pribadi,” ungkapnya.

Di balik keterbatasan, Ikbal mengaku tetap menikmati pekerjaannya. Ia senang bisa bertemu berbagai kalangan, mulai dari wisatawan hingga pejabat daerah dan pusat.

Namun, tantangan tetap ada. Ia kerap mendapati pengunjung datang di luar jam operasional, bahkan naik ke atas situs megalit dan mengunggahnya ke media sosial.

“Itu yang kami khawatirkan, karena bisa merusak situs,” tegasnya.

Sebagai jupel, Ikbal berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap fasilitas di kawasan situs cagar budaya. Ia mengusulkan penambahan gazebo sebagai tempat berteduh bagi pengunjung di sejumlah titik.

Di Situs cagar budaya Megalit Tadulako, kata dia, setidaknya dibutuhkan dua gazebo tambahan, termasuk di area puncak yang belum memiliki fasilitas serupa. Termasuk di kawasan Situs Anitu yang kerap disebut “situs alien” oleh masyarakat, berjarak sekitar satu kilometer dari Patung Tadulako.

“Kalau ke titik paling atas jaraknya sekitar dua kilometer, di sana juga belum ada tempat berteduh,” jelasnya.

Selain itu, ia juga meminta pemasangan papan informasi dan larangan agar pengunjung tidak menyentuh atau merusak situs.

“Harapan kami ada penambahan fasilitas dan papan larangan supaya situs ini tetap terjaga,” pungkas Ikbal. (od)