PALU | Warta Sulteng –

Di tengah pesatnya pertumbuhan coffee shop dengan beragam konsep dan desain arsitektur di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Kedai Vespa tetap bertahan dengan identitasnya sebagai ruang bermusik yang inklusif. Kedai yang berlokasi di Besusu Barat, tepatnya di Jalan Haji Hayun ini, konsisten menggelar program mingguan bertajuk Bosa “Bongi Salasa”.

Bongi Salasa berasal dari bahasa daerah Kaili yang berarti malam Selasa. Program ini rutin digelar setiap Senin malam, menghadirkan sesi jamming musik terbuka bagi musisi lokal Palu dan Sulawesi Tengah. Siapa pun bisa tampil, baik untuk bernyanyi maupun memainkan alat musik, mengisi panggung kecil yang disiapkan pengelola.

“Kedai Vespa sejak awal memang ingin menjadi ruang bersama bagi musisi. Tidak ada batasan genre dan tidak harus musisi profesional, yang penting mau berbagi karya dan menikmati musik,” kata Iphy, sang pemandu panggung kecil BOSA Senin malam (19/1/2026).

Menurut Iphy, konsistensi program Bongi Salasa menjadi bagian dari upaya menjaga denyut musik lokal agar tetap hidup di tengah perubahan tren tempat nongkrong.

“Kami ingin Kedai Vespa tetap jadi tempat singgah yang ramah, tempat orang datang bukan hanya untuk ngopi, tapi juga untuk menikmati proses dan pertemuan antar musisi,” ujarnya.

Pada Bongi Salasa Senin malam, 19 Januari 2026, Kedai Vespa tampak dipenuhi pengunjung dengan suasana yang hangat. Dengan sedikit sentuhan tampilan baru, meja dan kursi tertata rapi di bawah cahaya lampu pijar berwarna kuning. Pengunjung yang datang pun beragam, mulai dari kalangan dewasa hingga generasi Z dan Alpha.

Meski berada di jalur yang cukup ramai, keriuhan lalu lintas di Jalan Haji Hayun tak mengganggu suasana. Pengunjung tampak larut menikmati alunan musik yang mengalir spontan, dari genre jazz, rock, hingga pop, yang dimainkan secara bergantian oleh para musisi.

“Selama masih ada yang mau datang, bermain musik, dan saling mendukung, Bongi Salsa akan terus kami jalankan,” tutup Iphy.