PALU | Warta Sulteng –

Kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang menekan sistem kelistrikan di Sulawesi Tengah. Kondisi tersebut bertepatan dengan pemeliharaan sejumlah pembangkit sehingga PLN harus melakukan pengaturan beban melalui pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palu.

Pemadaman bergilir telah dirasakan masyarakat hampir dua pekan dengan durasi sekitar tiga hingga empat jam. Kondisi kemarau panjang membuat beban listrik meningkat, sementara kemampuan pasokan sistem harus tetap dijaga agar tidak mengalami gangguan yang lebih besar.

Pertamina Tegaskan STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi di SPBU

Manager PLN UP3 Palu, Ansar, mengatakan pengaturan beban dilakukan untuk menjaga keseimbangan sistem kelistrikan.

“Beban sistem kita perlu dijaga supaya tidak collapse. Jadi kita mengatur beban. Kalau sekarang kita rasakan tiga sampai empat jam, mudah-mudahan bisa membaik,” kata Ansar saat memberikan keterangan kepada sejumlah media di Kantor PLN UP3 Palu, Jalan Kartini, Senin, (7/9/2026).

Menurut Ansar, kenaikan beban listrik menjadi salah satu tantangan dalam kondisi cuaca panas. Beban puncak sistem kelistrikan Palu saat ini mencapai sekitar 260 megawatt (MW).

“Beban puncak itu sekarang 260 MW,” ujarnya.

Ansar menjelaskan, karakteristik beban listrik di wilayah luar Jawa masih menunjukkan konsumsi tertinggi pada malam hari. Karena itu, PLN menyesuaikan pola operasi pembangkit dengan kondisi beban, termasuk mengoperasikan pembangkit cadangan ketika kebutuhan meningkat.

“Beban puncak kalau di luar Jawa itu masih di malam hari. Jadi beban itu pada saat malam hari, akan masuk lagi pembangkit-pembangkit cadangan. Polanya juga,” jelasnya.

Selain kenaikan konsumsi listrik, kemarau panjang turut memengaruhi pengoperasian pembangkit listrik tenaga air. Kondisi sumber air harus diperhitungkan agar energi dari PLTA tidak digunakan secara berlebihan.

Ansar mengatakan pola pengoperasian PLTA perlu disesuaikan dengan kondisi tertentu, termasuk ketersediaan air.

“Pengaturannya harus diatur sedemikian rupa supaya tidak langsung habis,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sistem kelistrikan Sulawesi Tengah juga ditopang sejumlah pembangkit dengan sumber energi berbeda. Di antaranya PLTA Sulewana, PLTU Palu 3 berkapasitas sekitar 100 MW, serta pembangkit diesel dan pembangkit lainnya.

Di sisi lain, pemeliharaan pembangkit juga turut memengaruhi kondisi pasokan listrik dalam hampir dua pekan terakhir. Ansar membenarkan adanya pemeliharaan pembangkit yang berpengaruh terhadap sistem.

“Yang dua minggu lalu itu karena ada pemeliharaan pembangkit. Jadi itu sudah masuk, termasuk Palu 3 itu juga sudah masuk,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi cuaca panas membuat beban listrik meningkat sehingga kemampuan peralatan dalam sistem juga mendapat tekanan lebih besar.

“Pengaruhnya kan, yang saya bilang tadi, cuaca panas ini, beban itu memang naik tinggi. Kemampuan peralatan juga ya seperti itulah,” kata Ansar.

Meski demikian, PLN belum dapat memastikan waktu pemadaman bergilir akan berakhir sepenuhnya. Perusahaan masih menyesuaikan pengoperasian pembangkit dengan kondisi beban dan kemampuan sistem.

“Kalau kepastian ini saya tidak bisa memastikan berapa lama. Paling tidak kita harapannya jangan besar. Harapannya lebih cepat,” ujarnya.

Ansar menambahkan, kebutuhan listrik di Sulawesi Tengah terus tumbuh seiring perkembangan ekonomi dan aktivitas industri. Kondisi tersebut mendorong PLN untuk terus merencanakan penambahan kapasitas pembangkit.

“Dari dulu kan selalu ada penambahan, karena mengikuti perkembangan beban juga. Kalau ditanya ada penambahan, sudah direncanakan secara keseluruhan,” pungkasnya. (Od)