PALU | Warta Sulteng – 

Tutun (45) tidak banyak bicara siang itu.

Perempuan asal Desa Tumbulawa, Kecamatan Batudaka, Kabupaten Tojo Una-Una, tersebut duduk di depan kami dan menceritakan bagaimana hidupnya berubah dalam beberapa tahun terakhir.

“Dulu saya hanya di rumah. Sekarang saya bisa membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak,” katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Tutun, bekerja jauh dari sekadar menerima upah. Ia kini memiliki kesempatan untuk ikut menopang ekonomi keluarga.

Perubahan itu bermula dari sebuah pabrik kecil yang berdiri di atas lereng menghadap Teluk Tomini.

Lokasi tempat produksi produk dari Naturale. (Foto. Rahman Odi)

Untuk mencapainya, saya harus menempuh perjalanan laut dari Ampana menuju Kepulauan Togean. Setelah turun dari perahu di Desa Tumbulawa, perjalanan masih berlanjut dengan berjalan kaki sedikit menanjak sekitar 50 meter.

Aroma laut terasa kuat begitu kaki menginjak daratan. Di atas tanjakan, berdiri bangunan produksi yang tidak terlalu besar. Di depannya terdapat rumah kayu sederhana yang ditempati penjaga pabrik bersama keluarganya. Sang istri juga bekerja di tempat itu. Dari teras rumah, laut dan gugusan pulau-pulau kecil terbuka luas dipandang mata.

Di tempat sederhana itulah Naturalē tumbuh.

Namun kisah Naturalē sesungguhnya tidak dimulai di Desa Tumbuluwa.

Kisah itu berawal dari seorang perempuan bernama Sihkami Denting (38).

Sebelum kembali ke kampung halamannya di Kepulauan Togean, Sihkami bekerja di bidang teknologi informasi.

Kariernya membawanya berpindah dari satu negara ke negara lain. Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Turki, Jerman hingga Afrika Selatan pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Dari berbagai tempat itu, ia belajar tentang teknologi, bisnis, dan cara kerja dunia yang terus berubah.

Namun ketika pulang ke Togean, ia justru menemukan persoalan yang jauh lebih dekat.

Ia melihat banyak perempuan desa yang memiliki kemampuan untuk bekerja, tetapi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh penghasilan.

“Saya melihat perempuan di desa sering kali tidak punya kekuatan dalam rumah tangga karena tidak memiliki penghasilan sendiri. Padahal mereka punya waktu dan kemampuan untuk menghasilkan sesuatu,” cerita Sihkami kepada wartasulteng.com, Jumat, 14 Agustus 2026.

Pengamatan itu semakin menguat ketika ia melihat sebagian perempuan di sekitarnya menghadapi persoalan rumah tangga akibat ketergantungan ekonomi.

Dari situlah muncul keinginan untuk membuka ruang bagi perempuan desa agar dapat memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan kampung halamannya.

Kesempatan itu datang saat dunia dilanda pandemi Covid-19.

Ketika banyak sektor usaha mengalami perlambatan, Sihkami melihat peluang dari sesuatu yang selama ini tumbuh melimpah di sekitar masyarakat Togean.

Kelapa, Perempuan, dan Sabun dari Togean

Kelapa.

Di wilayah kepulauan ini, kelapa bukan komoditas langka. Namun selama bertahun-tahun, hasilnya lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.

Sihkami melihat kemungkinan lain.

Baginya, kelapa tidak harus berhenti sebagai bahan baku. Kelapa bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dan membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat.

Kelapa, perempuan, dan sabun menjadi cerita dari Kepulauan Togean. Naturale tumbuh sebagai UMKM binaan Bank Indonesia yang memperluas pasar hingga Raja Ampat
Produk sabun Naturale. (Foto. Rahman Odi)

Dari gagasan itu lahirlah Togean Naturalle.

Seiring berkembangnya usaha dan meluasnya jaringan pemasaran ke berbagai daerah, nama tersebut kemudian berubah menjadi Naturalē.

Perubahan nama itu jauh dari sekadar urusan merek. Ia menandai perjalanan sebuah usaha yang lahir di pulau kecil, tetapi mulai melangkah melampaui batas geografis tempat ia dibangun.

Di rumah produksi Desa Tumbulawa, minyak kelapa diolah menjadi berbagai produk perawatan tubuh dan rambut. Mulai dari sabun batang, sampo, kondisioner, sabun cair hingga pelembap tubuh.

Hampir 90 persen bahan bakunya berasal dari minyak kelapa. Untuk menghasilkan berbagai varian, bahan utama tersebut dipadukan dengan kunyit, rumput laut, minyak nilam, dan minyak jeruk.

Setiap hari, sekitar 130 hingga 200 batang sabun diproduksi dari tempat itu.

Sabun-sabun tersebut kemudian dikirim ke Ampana untuk dikemas sebelum dipasarkan. Sebagian dipasarkan di beberapa resort-resort yang ada di Kepuluan Togean. Kemasan produk, baik untuk sabun maupun produk dalam botol, dipesan dari Bali agar memiliki standar yang seragam.

Seiring pertumbuhan usaha, jumlah pekerja juga bertambah.

Saat ini Naturalē mempekerjakan sekitar 35 perempuan yang tersebar di unit produksi dan empat galeri yang berada di Kepulauan Togean, Ampana, Bali, dan Raja Ampat. Sementara di pabrik Desa Tumbulawa, proses produksi sehari-hari ditangani oleh dua perempuan dan satu manajer operasional.

Bagi Sihkami, angka itu lebih penting daripada sekadar jumlah produk yang terjual.

“Banyak staf saya dulu merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga karena mereka tidak punya kekuatan ekonomi. Itu yang membuat saya ingin memberikan kesempatan kepada perempuan-perempuan di desa,” katanya.

Karena itu, Naturalē tidak hanya menjadi tempat bekerja.

Usaha tersebut juga menjadi ruang belajar bagi perempuan-perempuan desa untuk memperoleh keterampilan dan penghasilan.

Namun perubahan sosial hanyalah satu bagian dari cerita yang ingin dibangun Sihkami.

Bagian lainnya adalah keberlanjutan.

“Untuk usaha yang berkelanjutan, ada tiga pilar yang kami pegang. Pertama manusia atau sosial. Karena itu kami terus melatih ibu-ibu di desa agar memiliki keterampilan dan penghasilan. Kedua lingkungan. Listrik yang kami gunakan berasal dari panel surya, sedangkan air yang kami gunakan berasal dari air hujan yang ditampung dan disaring. Ketiga adalah bisnis. Tanpa usaha yang sehat, semuanya tidak akan berjalan,” ujarnya.

Prinsip tersebut diterapkan langsung di lokasi produksi.

Di pulau yang dikelilingi laut itu, panel surya menjadi sumber energi utama. Air hujan ditampung, disaring, lalu digunakan untuk mendukung aktivitas produksi sehari-hari.

Kata Sihkami, keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan. Keberlanjutan juga harus menyentuh manusia yang terlibat di dalamnya dan memastikan usaha tetap hidup dalam jangka panjang. Karena itu, ia tidak pernah mempertentangkan pertumbuhan usaha dengan kesejahteraan masyarakat.

“Saya tidak bisa memilih antara kesejahteraan masyarakat dan pengembangan penjualan produk, karena keduanya berjalan bersamaan. Ketika penjualan meningkat, produksi ikut meningkat. Saat produksi meningkat, kebutuhan tenaga kerja juga bertambah. Dampaknya kembali ke masyarakat,” katanya.

Menjelang sore, aktivitas di rumah produksi tetap berjalan seperti biasa.

Di ruang produksi, sabun-sabun tersusun rapi menunggu giliran dikirim. Sementara di luar bangunan, laut Teluk Tomini terlihat tenang karena dikelilingi pulau-pulau kecil.

Melihat lebih dekat prodok Naturale yang telah dalam kemasan. (Foto. Rahman Odi)

Naturalē mungkin lahir dari kelapa yang tumbuh di Togean. Namun dalam perjalanannya, usaha ini juga menjadi tempat bagi perempuan-perempuan desa untuk memperoleh kesempatan yang sebelumnya tidak selalu mereka miliki.

Dan bagi Sihkami, itulah alasan mengapa usaha ini terus dijalankan. (Mn)