PALU | Warta Sulteng –

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menjalankan sejumlah agenda kerja dalam kunjungan kerja ke Sulawesi Tengah, Kamis (20/8/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Amran didampingi sejumlah pejabat eselon I, Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani, serta Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmat Pribadi.

Setibanya di Palu, Amran menghadiri Wisuda ke-138 Universitas Tadulako (Untad) dan menyampaikan orasi ilmiah di hadapan ribuan lulusan. Setelah itu, ia mengikuti kick off penyaluran bantuan pangan (banpang) untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026 di Kelurahan Tondo, Kota Palu.

“Kita meninjau program pengembangan perkebunan nasional sesuai arahan Bapak Presiden. Kedua, memberikan sembako (banpang) kepada masyarakat. Ketiga, memberikan kuliah umum di Tadulako,” kata Amran kepada awak media.

Dalam orasi ilmiahnya, Amran mendorong para lulusan Untad agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah menyandang gelar sarjana. Ia meminta lulusan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan peluang ekonomi Indonesia untuk menciptakan usaha serta lapangan kerja.

“Anak-anakku, Anda ini alumni. Enggak usah mencari kerja, ciptakan pekerjaan, ciptakan peluang. Pasti bisa. Indonesia ini subur,” kata Amran.

Menurut Amran, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah serta peluang ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Orang lain saja datang ke Indonesia, numpang, kaya raya. Heran, tuan rumahnya miskin,” ujarnya.

Amran juga mengingatkan para lulusan agar mengubah pola pikir dalam meraih kesuksesan. Ia menilai keberhasilan membutuhkan proses panjang dan keberanian menghadapi kegagalan.

“Kalau mau sukses, siapkan gagal lima tahun sampai 10 tahun. Harus gagal. Pondasi sukses adalah gagal dan menderita,” tuturnya.

Ia mengkritik pola pikir yang menginginkan keberhasilan secara instan. Menurutnya, kegagalan merupakan bagian dari proses yang dapat membentuk pengalaman dan kemampuan seseorang dalam menghadapi persoalan.

Amran juga meminta dosen Untad memberikan tantangan lebih banyak kepada mahasiswa agar mereka terbiasa berpikir, bekerja keras, dan menyelesaikan berbagai persoalan.

“Pak Rektor dan para dosen, tambah PR-nya. Kalau boleh, satu kali ketemu beri PR 10, minimal lima,” katanya.

Ia menegaskan, gelar akademik bukan akhir dari proses belajar. Sebaliknya, gelar tersebut menjadi awal bagi lulusan untuk berkarya, menciptakan peluang, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat serta pembangunan Indonesia.

Usai agenda di Untad, Amran melanjutkan kegiatan dengan meninjau penyaluran bantuan pangan kepada masyarakat di Kota Palu sebagai bagian dari program pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan dan membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.**