TOJO UNA-UNA | Warta Sulteng –
Speedboat bermesin tiga perlahan meninggalkan tepi pantai Ampana, Selasa, 4 Agustus 2026. Ombak di Teluk Tomini masih tenang. Pagi itu, saya bersama peserta Capacity Building Media Mitra Bank Indonesia Sulawesi Tengah menyeberang menuju Kepulauan Togean.
Tujuan utama kami bukan hanya untuk menikmati bentang laut yang menjadi kebanggaan Sulawesi Tengah. Di Desa Tumbulawa, Kecamatan Batudaka, kami ingin melihat bagaimana sebuah usaha mikro mengolah kelapa menjadi produk perawatan tubuh yang kini dipasarkan hingga Bali dan Raja Ampat.
“Kalau cuaca bagus, sekitar pukul 09.30 kita sudah sampai di Pulau Papan,” ujar seorang awak speedboat sebelum kapal menambah kecepatan.
Laut pagi tampak bersahabat. Pulau-pulau kecil bergantian muncul di kejauhan. Sebelum menuju Desa Tumulawa, rombongan terlebih dulu ke Pulau Papan, Desa Kadoda. Air lautnya begitu jernih. Batu karang terlihat jelas. Beberapa peserta memilih berenang, sementara wisatawan mancanegara menikmati suasana pagi di salah satu ikon wisata Kepulauan Togean.
Sekitar satu jam kemudian, perjalanan dilanjutkan.
Air laut sedang surut sehingga speedboat tidak dapat merapat ke bibir pantai Desa Tumulawa. Saya dan rombongan bergantian naik perahu kecil, lalu berpindah ke rakit kayu sebelum akhirnya menginjak daratan.
Aroma laut langsung menyambut. Angin membawa bau khas air asin yang bercampur dengan semilir pohon disekitar. Namun perjalanan belum usai. Kami masih harus berjalan menanjak sekitar 50 meter untuk mencapai pabrik Naturale.
Di depan bangunan produksi berdiri sebuah rumah kayu sederhana. Rumah itu ditempati penjaga pabrik bersama keluarganya. Sang istri juga bekerja sebagai tenaga produksi. Dari teras rumah, laut membentang diantara pulau-pulau kecil. Pemandangan itu menjadi bagian dari keseharian mereka.
Beberapa langkah dari rumah tersebut, Hannah, Manajer Operasional Naturale, menyambut kedatangan kami.
Foto Bagus Saja Tak Cukup, Ini 7 Kiat Foto Jurnalistik yang Bercerita
Bangunan pabrik itu tidak besar. Dari tempat sederhana di pulau itu, berbagai produk perawatan tubuh dan perawatan rambut diproduksi, mulai dari sabun batang, sampo, kondisioner, sabun cair, hingga pelembap tubuh.
Di ruang produksi, rak-rak berisi sabun tersusun rapi. Sebagian masih menjalani proses pengeringan. Di Desa Tumulawa, proses produksi berhenti sampai di situ. Sabun yang telah selesai dibuat kemudian dikirim ke galeri Naturale di Ampana untuk dikemas.
Hannah kemudian memperlihatkan berbagai produk yang telah siap dipasarkan. Mulai dari sabun batang hingga produk dalam kemasan botol, seluruhnya menggunakan kemasan yang dipesan dari Bali agar memiliki tampilan yang seragam.
Setiap hari, Naturale mampu memproduksi sekitar 130 hingga 200 batang sabun. Hampir 90 persen bahan bakunya menggunakan bahan alami berasal dari minyak kelapa yang dipasok dari kebun milik owner di Ampana dan petani mitra di sekitar pabrik. Untuk menghasilkan berbagai varian, minyak kelapa dipadukan dengan bahan alami seperti kunyit, rumput laut, minyak nilam, dan minyak jeruk.
Usaha yang awalnya dikenal dengan nama Togean Naturalle itu kini menggunakan nama Naturale. Perubahan nama dilakukan seiring berkembangnya jaringan usaha yang tak lagi hanya berada di Kepulauan Togean. Saat ini Naturale memiliki empat galeri yang tersebar di Kepulauan Togean, Ampana, Bali, dan Raja Ampat.
Perkembangan itu tidak lepas dari pendampingan Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah. Sebagai salah satu UMKM binaan, Naturale memperoleh pendampingan dalam pengembangan jaringan pemasaran, peningkatan kapasitas usaha, hingga penguatan desain kemasan produk agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Sejak bermitra dengan Bank Indonesia, pemasaran menjadi lebih mudah. Kami juga mendapat berbagai pelatihan untuk pengembangan UMKM,” kata Hannah.
Sebelum kami bergantian melihat ruang produksi, kami diajak makan siang. Ikan laut bakar tersaji bersama sambal dabu-dabu, sayur kangkung, irisan mentimun, dan nasi hangat. Sederhana, tetapi terasa nikmat setelah perjalanan sejak pagi.
Diskusi kemudian berlangsung santai. Hannah menjelaskan, Naturale kini mempekerjakan sekitar 35 orang dan seluruhnya perempuan. Mereka tersebar di pabrik produksi serta empat galeri di Kepulauan Togean, Ampana, Bali, dan Raja Ampat. Di pabrik Desa Tumulawa sendiri, hanya dua perempuan yang menangani proses produksi setiap hari.
Di tengah diskusi, Hannah mempersilakan salah seorang pekerja berbagi cerita.
Tutun (45) duduk melantai di depan kami. Perempuan yang setiap hari bekerja di ruang produksi itu juga yang tinggal bersama suaminya di areal pabrik untuk menjaga dan mengurus pabrik.
“Alhamdulillah setelah bekerja disini, sekarang saya bisa membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga, menyewa rumah kost untuk menyekolahkan anak di Ampana” ujarnya.
Kalimat itu disampaikan dengan tenang dan singkat. Namun, cukup untuk menggambarkan bahwa pabrik kecil di Desa Tumulawa tidak sekadar hanya menghasilkan sabun. Tempat itu juga membuka kesempatan bagi perempuan untuk ikut menopang ekonomi keluarga.
Menjelang pukul 14.00 WITA, kami kembali menaiki speedboat menuju Ampana. Bangunan pabrik di atas lereng perlahan mengecil. Rumah kayu yang menghadap laut itu ikut menghilang dari pandangan.
Speedboat yang membawa kami terus menjauh dari Desa Tumulawa. Di lereng yang menghadap pulau-pulau kecil gugusan kepulauan Togean, para perempuan kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka mungkin tidak lebih sering mengantar setiap produk ke Bali atau Raja Ampat. Namun, dari tangan merekalah Naturale membuktikan bahwa sebuah usaha yang lahir di pulau kecil mampu menemukan jalannya sendiri menyeberangi laut. (Od)






