PALU | Warta Sulteng –
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan pentingnya transformasi tata kelola untuk mempercepat pengentasan kemiskinan saat menyampaikan orasi ilmiah di UIN Datokarama Palu, Senin (20/4/2026).
Dalam orasi bertajuk Transformasi Tata Kelola: Mempercepat Pengentasan Kemiskinan Menuju Indonesia Emas 2045, Gus Ipul langsung menyoroti bahwa kemiskinan merupakan persoalan multidimensional, tidak sekadar terkait pendapatan.
“Apakah Indonesia bisa mencapai Indonesia Emas 2045 jika sebagian rakyatnya masih hidup dalam kemiskinan?” tegasnya di hadapan wisudawan dan sivitas akademika.
Ia menilai program bantuan sosial selama ini masih banyak menyasar gejala, belum menyentuh akar masalah. Karena itu, pemerintah mendorong sistem berbasis data yang terintegrasi dan kolaboratif.
Gus Ipul memaparkan tiga langkah utama. Pertama, pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai dasar kebijakan agar intervensi tepat sasaran. Kedua, integrasi program dari hulu ke hilir melalui pendekatan *life cycle social protection*, mulai dari bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, hingga akses pendidikan. Ketiga, penguatan kolaborasi multipihak.
“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, masyarakat, dan kampus harus terlibat,” ujarnya.
Ia juga menekankan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat inovasi dan solusi sosial. Menurutnya, lulusan kampus harus menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
“Jika kemiskinan adalah rantai, maka pendidikan adalah kuncinya,” kata Gus Ipul.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya pemerataan pendidikan, termasuk melalui program Sekolah Rakyat untuk mencegah kemiskinan antar-generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Sosial menandatangani nota kesepahaman dengan UIN Datokarama Palu. Kerja sama ini mencakup penanganan kelompok rentan, termasuk eks narapidana terorisme melalui pendekatan pemberdayaan dan pendampingan.
“Penanganan harus komprehensif, termasuk destigmatisasi agar mereka kembali diterima di masyarakat,” jelasnya.
Rektor UIN Datokarama Palu, Lukman S. Thahir, menyambut kerja sama tersebut dan menyebutnya sebagai langkah strategis.
“Kami siap mendampingi sekitar seratus eks Napiter di Sulawesi Tengah melalui program sosial dan pemberdayaan,” ujarnya.
Kolaborasi ini juga akan diwujudkan lewat program KKN terintegrasi, di mana mahasiswa turun langsung mendampingi masyarakat hingga mandiri. *