PALU | Warta Sulteng –

Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah menargetkan penyerapan 3.300 ton jagung dari petani sepanjang tahun 2026. Hingga pertengahan Juli, realisasi penyerapan baru mencapai lebih dari 800 ton.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sulawesi Tengah, Jusri, mengatakan selain menyalurkan jagung melalui program SPHP, Bulog juga menjalankan program pembelian hasil panen petani untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.

“Hingga saat ini serapan jagung kami sudah lebih dari 800 ton. Kami juga masih memiliki stok sekitar 400 ton dari pengadaan tahun sebelumnya,” ujar Jusri saat diwawancarai di Kantor Perum Bulog Sulawesi Tengah, Jumat (17/7/2026).

Meski demikian, capaian tersebut masih jauh dari target penyerapan yang ditetapkan pemerintah.

“Tahun ini target kami mencapai 3.300 ton,” katanya.

Bulog membeli jagung petani dengan harga Rp6.400 per kilogram sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Namun, pembelian hanya dilakukan terhadap jagung dengan kadar air maksimal 14 persen agar memenuhi standar penyimpanan.

Menurut Jusri, kondisi tersebut menjadi tantangan karena sebagian besar jagung petani masih memiliki kadar air 15 hingga 16 persen.

“Kalau kadar airnya masih tinggi tentu belum memenuhi syarat untuk disimpan. Petani harus mengeringkannya terlebih dahulu,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika harga jagung di tingkat peternak mencapai Rp6.000 hingga Rp6.100 per kilogram, sebagian petani lebih memilih menjual langsung kepada peternak dibanding mengeringkan hasil panennya.

Sebaliknya, ketika harga pasar turun di bawah Rp5.500 per kilogram, petani mulai tertarik mengeringkan jagung agar dapat dijual ke Bulog dengan harga yang lebih menguntungkan.

Menurut Jusri, Bulog terus melakukan sosialisasi kepada petani mengenai standar mutu jagung agar penyerapan hasil panen dapat meningkat sekaligus menjaga kualitas stok pangan pemerintah.**