JAKARTA | Warta Sulteng –

Perum Bulog memperkuat intervensi pasar untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras dengan mengerahkan jajarannya secara serentak di berbagai daerah. Langkah tersebut dilakukan di tengah kuatnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mencapai sekitar 4,9 juta ton per 5 September 2026.

Selain memantau harga dan ketersediaan komoditas secara langsung di pasar, Bulog menyiapkan penggelontoran sekitar 110 ribu ton beras selama satu bulan melalui pasar dan jaringan ritel modern di seluruh Indonesia. Pasokan tersebut terdiri atas 75 ribu ton beras premium dan 35 ribu ton beras medium.

Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pengawasan langsung ke pasar dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pangan dan mengendalikan potensi tekanan inflasi.

“Kami mengantisipasi bukan hanya pengaduan, tetapi kami mengantisipasi akan kenaikan inflasi. Itu yang paling utama. Karena penugasan Bulog yang paling utama adalah menjaga stabilisasi harga,” tegas Ahmad Rizal saat melakukan monitoring pasar di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Monitoring pasar dilakukan serentak setelah koordinasi nasional melalui konferensi video yang dipimpin Ahmad Rizal bersama Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional Maino Dwi Hartono serta jajaran pimpinan wilayah dan cabang Bulog.

Dari pasar di wilayah masing-masing, jajaran Bulog memantau harga, ketersediaan komoditas, distribusi, serta efektivitas intervensi pangan. Langkah tersebut sekaligus menjadi upaya untuk memperoleh gambaran kondisi pasar secara langsung dan merespons lebih cepat apabila terjadi perubahan harga maupun gangguan pasokan.

Di Jakarta, Ahmad Rizal bersama Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal dan Direktur Pemasaran Perum Bulog Rahmanto Amin Jatmiko melakukan monitoring dan inspeksi di Pasar Jatinegara dan Pasar Rawamangun.

Jajaran Bulog berdialog dengan pedagang serta mengecek harga dan ketersediaan beras untuk memastikan distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) berjalan dengan baik.

Selain beras SPHP, Bulog juga mendorong penguatan pasokan beras premium dan sejumlah komoditas pangan lainnya agar kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang wajar.

Hingga 5 September 2026, penyaluran beras SPHP tercatat sekitar 756 ribu ton. Dengan stok CBP yang mencapai sekitar 4,9 juta ton, Bulog memiliki ruang yang cukup untuk melakukan intervensi pasar secara terukur.

Penguatan pasokan juga dilakukan melalui jaringan ritel modern. Bulog telah berkoordinasi dengan jaringan ritel di seluruh Indonesia untuk menyalurkan 110 ribu ton beras dalam satu bulan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 ribu ton merupakan beras premium dan 35 ribu ton beras medium. Penyaluran dilakukan secara bertahap melalui jaringan ritel modern dan pasar yang menjadi titik pemantauan harga pangan.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap beras dengan harga kompetitif sekaligus memperkuat pasokan di tingkat konsumen ketika terjadi tekanan harga.

Dalam pelaksanaannya, Bulog berkolaborasi dengan Badan Pangan Nasional, Satgas Pangan, TNI, Polri, pemerintah daerah, pengelola pasar, jaringan ritel modern, dan pemangku kepentingan lainnya.

Sinergi lintas sektor tersebut diarahkan untuk memastikan pengawasan berjalan dari sisi stok, distribusi hingga harga di tingkat konsumen. Jika ditemukan kenaikan harga yang tidak wajar, intervensi dapat segera dilakukan.

Melalui penguatan stok, percepatan penyaluran SPHP, tambahan pasokan beras premium, serta monitoring pasar secara serentak, Bulog terus mengoptimalkan instrumen stabilisasi pangan untuk menjaga pasokan tetap tersedia dan harga beras tetap terjangkau bagi masyarakat. **