PALU | Warta Sulteng –

Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Tengah memastikan penyerapan gabah dan beras dari petani tetap digenjot meski target tahunan yang ditetapkan pemerintah telah terlampaui.

Hingga 21 Agustus 2026, realisasi penyerapan gabah dan beras Bulog Sulteng mencapai 100,78 persen, atau setara 11.400,68 ton beras.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sulawesi Tengah, Jusri, mengatakan pencapaian tersebut tidak menjadi alasan bagi Bulog untuk mengendurkan penyerapan. Sebaliknya, Bulog akan terus menyerap hasil panen petani hingga akhir tahun.

“Harapan kami bisa melebihi itu (100 persen, red),” ujar Jusri, Senin (24/8/2026).

Menurut Jusri, penyerapan hasil panen membutuhkan dukungan dan koordinasi lintas sektor. Bulog membutuhkan informasi yang cepat mengenai lokasi dan waktu panen agar dapat segera mendatangi sentra produksi.

Koordinasi tersebut melibatkan pemerintah daerah, TNI-Polri, instansi yang menangani ketahanan pangan, hingga pemerintah desa dan kelurahan.

“Kalau ada informasi panen di wilayah tertentu, kami berharap bisa mendapatkan datanya sehingga kegiatan penyerapan bisa berjalan,” katanya.

Jusri mengatakan percepatan penyerapan juga penting untuk menjaga harga gabah di tingkat petani, terutama ketika produksi meningkat dan berpotensi menekan harga.

Menurut dia, selama harga gabah masih berada di atas harga pembelian yang berlaku, mekanisme pasar dapat berjalan. Namun, ketika harga turun dan petani kesulitan menjual hasil panennya, Bulog harus segera turun tangan melalui penyerapan.

Saat ini, Bulog Sulteng membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram. Sementara harga pembelian beras di gudang Bulog mencapai Rp12.000 per kilogram.

Selain gabah dan beras, Bulog Sulteng juga menyerap komoditas pangan lainnya, termasuk jagung.

Jusri berharap penguatan sinergi antara Bulog, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan sektor pertanian dapat mempercepat penyerapan hasil panen sekaligus menjaga harga dan melindungi pendapatan petani.

Dengan target tahunan yang telah terlampaui, Bulog Sulteng kini menempatkan peningkatan serapan sebagai upaya menjaga keberlanjutan stok pangan sekaligus memperkuat swasembada pangan di daerah. **