SIGI | Warta Sulteng –

Festival Ranjuri bertajuk ‘Seni Merawat Hutan’ resmi dibuka di Desa Beka, Kecamatan Marawola,  Kabupaten Sigi, Kamis (2/7/2026). Pembukaan festival ditandai dengan penetapan Hutan Ranjuri seluas 9,13 hektare sebagai kawasan hutan ekowisata, sekaligus menjadi langkah awal pengembangan kawasan berbasis konservasi yang diinisiasi masyarakat setempat.

Festival yang akan berlangsung hingga Minggu (5/7) itu dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Sigi, organisasi nonpemerintah (NGO), akademisi, mahasiswa, pelajar, serta pegiat lingkungan. Rangkaian kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan, dilanjutkan jelajah Hutan Ranjuri, registrasi peserta camping ground pada sore hari, dan pertunjukan seni serta budaya yang akan digelar mulai Jumat.

Dalam kegiatan jelajah hutan, peserta menyusuri kawasan konservasi untuk mengenal lebih dekat fungsi ekologis Hutan Ranjuri. Mereka juga melihat sejumlah pohon endemik Kaili atau dalam bahasa latinnya Dracontomelon Mangiferum yang diperkirakan berusia sekitar 700 hingga 800 tahun berdasarkan hasil penelitian.

Di akhir kegiatan, peserta melakukan penanaman bibit pohon aren sebagai bagian dari upaya rehabilitasi kawasan.

Ketua Panitia Festival Ranjuri, Fablu Aimar, mengatakan festival tersebut merupakan gagasan masyarakat Desa Beka yang telah dirintis sejak 2016, namun baru dapat diwujudkan tahun ini melalui dukungan dan swadaya warga.

“Festival ini sudah kami gagas sejak 2016 dan akhirnya bisa terlaksana tahun ini. Harapan kami, Festival Ranjuri dapat menjadi agenda tahunan di Kabupaten Sigi,” kata Fablu.

 

Menurutnya, festival tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga sarana edukasi untuk memperkenalkan pentingnya menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat.

Di waktu yang sama, Kepala Desa Beka, Mohammad Fitra, mengapresiasi konsistensi panitia yang tetap mempertahankan semangat meski pelaksanaan festival sempat tertunda sebanyak tiga kali.

Warga Terdampak Gempa di Sigi Kini Nikmati Air Bersih Siap Minum dari Water Treatment Brimob

Ia menjelaskan, Hutan Ranjuri memiliki posisi strategis karena berada di tengah kawasan permukiman Desa Beka. Selama ini hutan tersebut berperan menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus memberikan perlindungan bagi masyarakat dari ancaman bencana.

“Tujuan utama festival ini adalah memperkenalkan Hutan Ranjuri kepada masyarakat luas. Kami ingin semakin banyak orang mengetahui bahwa Desa Beka memiliki hutan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Fitra mengatakan keberadaan Hutan Ranjuri telah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama saat menghadapi banjir maupun gempa bumi yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018.

“Hutan ini bukan hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga menjadi benteng mitigasi bencana. Karena itu kami ingin mewariskannya kepada anak cucu agar tetap lestari dan terus memberi manfaat bagi kehidupan,” katanya.

Festival Ranjuri dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Heru Murtanto, yang mewakili Bupati Sigi. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kegigihan masyarakat Desa Beka yang mampu mewujudkan festival setelah satu dekade sejak pertama kali direncanakan.

“Kami mengapresiasi semangat masyarakat Desa Beka dan panitia. Meski baru terlaksana setelah cukup lama direncanakan, yang patut disyukuri adalah Hutan Ranjuri tetap terjaga hingga hari ini,” ujar Heru.

Ia menilai Festival Ranjuri menjadi contoh bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pengembangan seni, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Heru mengingatkan bahwa hutan saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim hingga aktivitas manusia yang belum sepenuhnya memperhatikan prinsip keberlanjutan.

“Festival ini membuktikan bahwa manusia dan alam dapat tumbuh berdampingan. Masa depan kita bergantung pada kelestarian lingkungan. Saya berharap Festival Ranjuri semakin memperkuat identitas Kabupaten Sigi sekaligus menginspirasi masyarakat untuk menjaga hutan secara berkelanjutan,” tuturnya.

Ia juga mengajak generasi muda mengambil peran aktif sebagai pelopor dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup.
“Generasi muda harus menjadi pelopor dalam menjaga hutan dan lingkungan.
Masa depan kelestarian alam berada di tangan mereka,” katanya.

Dukungan terhadap pengembangan Hutan Ranjuri juga datang dari anggota DPRD Kabupaten Sigi, Endang Herdianti. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi menjadi destinasi wisata berbasis konservasi yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Ia menilai pengelolaan Hutan Ranjuri perlu diperkuat melalui regulasi agar perlindungan kawasan memiliki kepastian hukum sekaligus didukung pembiayaan yang memadai.

“Kalau nanti ada rekomendasi festival yang mengarah pada penyusunan regulasi pengelolaan Hutan Ranjuri, DPRD siap membahas dan mendorongnya menjadi peraturan. Kami juga akan mengupayakan dukungan anggaran untuk pengelolaan maupun perlindungan kawasan sesuai kewenangan pemerintah daerah,” pungkas Endang. **