PALU | Warta Sulteng –
Bulog Sulawesi Tengah mengungkap petani di Sulawesi Tengah saat ini mulai memilih menjual gabah dibandingkan dengan beras. Perubahan pola penjualan hasil panen mulai terlihat di tingkat petani di berbagai wilayah di Sulteng.
Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sulawesi Tengah, Jusri, mengatakan perubahan tersebut terjadi setelah Bulog gencar melakukan sosialisasi mengenai keuntungan menjual gabah secara langsung kepada pemerintah.
“Kami melihat petani yang sudah pernah menjual gabah kepada Bulog rata-rata merasa lebih diuntungkan karena tidak lagi mengeluarkan biaya pengeringan maupun penggilingan,” kata Jusri saat diwawancarai sejumlah media di Kantor Perum Bulog Sulawesi Tengah, Jalan Moh. Yamin, Palu, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, Bulog membeli gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai HPP. Setelah transaksi dilakukan, seluruh biaya pengolahan menjadi tanggung jawab Bulog.
Selama ini sebagian petani terbiasa menjual hasil panen dalam bentuk beras sehingga harus menanggung biaya penjemuran, pengeringan hingga penggilingan.
“Kalau dijual dalam bentuk gabah, petani langsung menerima uang dan tidak lagi memikirkan biaya pengolahan yang bisa mencapai sekitar 10 persen,” ujarnya.
Jusri mengatakan perubahan pola tersebut telah terjadi di sejumlah daerah, seperti Pantai Barat, Pantai Timur, Morowali dan Luwuk. Sementara wilayah sentra padi di Tolitoli, khususnya kawasan Tolai dan sekitarnya, masih akan menjadi fokus sosialisasi pada musim panen berikutnya.
Keberhasilan mengubah pola penjualan petani turut mendorong realisasi pengadaan gabah Bulog Sulawesi Tengah mencapai 16.640 ton, melampaui target pemerintah sebesar 13.900 ton. **






