TOJO UNA-UNA | Warta Sulteng –

Managing Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin, mengingatkan jurnalis agar tidak berhenti pada penyampaian fakta dalam menulis feature. Menurutnya, sebuah karya jurnalistik harus mampu membangun cerita yang membuat pembaca ingin terus mengikuti alurnya hingga selesai.

Pesan itu disampaikan Mahandis saat menjadi pemateri dalam kegiatan Capacity Building Media yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tengah di Marina Cottage, Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una, Senin (3/8/2026).

“Feature yang baik adalah tulisan yang membuat pembaca terus ingin membaca sampai akhir,” kata Mahandis.

Menurutnya, daya tarik sebuah feature dimulai dari kalimat pembuka. Lead harus mampu membangkitkan rasa penasaran melalui kalimat yang singkat, spesifik, dan memiliki kekuatan menggugah pembaca.

“Kalimat pertama harus langsung mengikat perhatian. Jangan memberi semua jawaban di awal, tetapi bangun rasa ingin tahu pembaca,” ujarnya.

Mahandis menjelaskan, kemampuan bertutur menjadi modal penting bagi seorang jurnalis. Namun, kemampuan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab etika.

“Semakin hebat seseorang bercerita, semakin besar pula tanggung jawab etikanya,” tegasnya.

Ia menilai, jurnalis bukan hanya menyusun rangkaian peristiwa, tetapi juga berperan sebagai “agen bahasa” yang menerjemahkan realitas menjadi cerita yang mudah dipahami tanpa menghilangkan akurasi maupun martabat narasumber.

Dalam pemaparannya, Mahandis juga mengenalkan pendekatan storytelling with people. Melalui pendekatan ini, masyarakat ditempatkan sebagai subjek utama dalam cerita sehingga pengalaman dan perspektif mereka menjadi inti sebuah reportase.

Kepala Perwakilan BI Sulteng Buka Capacity Building Media Mitra di Tojo Una-Una

Sebagai bagian dari pelatihan, hampir dua puluh jurnalis berbagai media dibagi ke dalam empat kelompok untuk menganalisis sebuah karya feature. Peserta diminta mengidentifikasi alasan sebuah cerita layak diangkat, kekuatan alur yang membuat pembaca bertahan, adegan yang paling berkesan, hingga bukti-bukti kerja jurnalistik yang memperkuat reportase.

Menurut Mahandis, latihan tersebut bertujuan membangun kepekaan jurnalis dalam menyusun feature yang tidak hanya enak dibaca, tetapi juga akurat, berimbang, dan beretika.**