JAKARTA, Wartasulteng.com –

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah pada perdagangan Senin (16/3/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah spot ditutup di level Rp16.997 per dolar AS, atau terdepresiasi 0,23 persen dari posisi sebelumnya Rp16.958. Puncak tekanan terjadi di tengah sesi, saat rupiah sempat menyentuh Rp17.006 pada pukul 12.30 WIB — hampir menyamai rekor terburuk sepanjang masa.

Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat kurs di Rp16.990, melemah dari Rp16.934. Pelemahan ini dipicu tekanan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penguatan dolar sebagai aset safe haven. Harga minyak dunia melonjak di atas US$100 per barel, memperburuk beban impor Indonesia.

Muhammad Amru Syifa dari ICDX menyebut inflasi AS yang stagnan di 2,4 persen membuat Federal Reserve enggan potong suku bunga. “Dolar menguat karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan,” katanya. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menambahkan, “Rp17.000 bukan lagi psikologis, tapi ujian kepercayaan pasar.”

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keheranan. “Ekonomi lagi kencang, fundamental bagus, rupiah seharusnya menguat,” ujarnya usai Rakortas Kemenko Perekonomian. Ia menyerahkan urusan ke Bank Indonesia. “Tanggung jawab BI jaga stabilitas nilai tukar,” tegasnya.

Tren ini melanjutkan penurunan sejak awal Maret, dengan rupiah pertama kali tembus Rp17.000 pada 9 Maret — terburuk sejak krisis 1998. Analis memperingatkan, tanpa intervensi kuat, pelemahan bisa berlanjut. BI belum beri pernyataan resmi, tapi pasar spekulasi soal langkah stabilisasi.